Jumat, 17 Februari 2012

Lagu Favorit Mai Kassab - Ahla Men El Kalam

Mai Kassab - Ahla Men El Kalam

اه لو تعرف بهواك قد ايه
لما بقابلك بنسى كلامي ليه
وبدور عليه كده معرفش ليه
ليله فليله وانا متلك كده
من غير ما احسب حبيتك كده
قلبي لقيته دق وحب الحب ده
اه لو تعرف بهواك قد ايه
لما بقابلك بنسى كلامي ليه
وبدور عليه كده معرفش ليه
ليله فليله وانا متلك كده
من غير ما احسب حبيتك كده
قلبي لقيته دق وحب الحب ده
من كتر حبي فيك بسرح قدام عينيك
ما بافتكرش كلمة واحدة كان نفسي اقولها ليك
من كتر حبي فيك بسرح قدام عينيك
ما بافتكرش كلمة واحدة كان نفسي اقولها ليك
يللي كلامك أحلى من الكلام
قلبي ارتاحلك من اول سلام
وغرامك غرام فاق معنى الغرام
انا مش قادرة على بعدك في يوم
واما بتبعد انا مابدقش نوم
ايوه هاموت عليك عايشة الدنيا بيك
يللي كلامك أحلى من الكلام
قلبي ارتاحلك من اول سلام
وغرامك غرام فاق معنى الغرام
انا مش قادرة على بعدك في يوم
واما بتبعد انا مابدقش نوم
ايوه هاموت عليك عايشة الدنيا بيك
من كتر حبي فيك بسرح قدام عينيك
ما بافتكرش كلمة واحدة كان نفسي اقولها ليك
من كتر حبي فيك بسرح قدام عينيك
ما بافتكرش كلمة واحدة كان نفسي اقولها ليك

ingin lagunya silahkan download di sini

Kamis, 21 Juli 2011

Senang

Alhamdulillah

Minggu, 17 April 2011

Puasa dalam Al-Quran

 

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.

Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.

Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.

Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.

Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:

“Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.”

Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.

Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata “shaum”.

Yang diwajibkan kepada kita bukanlah “shaum”, melainkan “shiyam”. “Shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Jadi, “shaum” adalah menahan diri, sedangkan “shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Persamaan “shaum” dan “shiyam”, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak “shaum” dan tidak melakukan “shiyam”.

Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.

Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.

Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.

Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks “shiyam”, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.

Esensi shiyam

Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: “la allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.

Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. “Wa libasut taqwa zalika khair”.

Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam “takwa”. Jadi, kalau kita mengatakan “takwa”, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan “dima ul khair” (himpunan dari segala macam kebaikan).

Jika Alquran mengatakan, bahwa ”diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa,” maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.

Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.

Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

“Ash-shaumuli wa ana azzibi.”

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.

Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.

Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.

Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.

Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.

Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. “Akulah yang akan memberi pahalanya,” kata Allah.

Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: “Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.”

Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.

Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?

Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.

Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.

Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal

Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]

Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar “fidyah” saja.

Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.

Ternyata bukan hanya ini.

Allah “ar-rahman”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahman” kepada orang lain? Allah “ar-rahim”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahim” kepada orang lain?

“Rahman” adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.

“Rahim”, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.

“Malik”, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.

Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.

“Quddus” artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.

Allah itu “quddus”, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.

Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.

“‘Alim”, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).

Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.

“Ghaniy”, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.

“Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf. ”

Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.

Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.

Selain “ghaniy”, ada juga “mughniy”. “Mughniy” artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.

Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.

Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.

Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.

Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.

Di sini, yang jadi “karim” itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu “karim”. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?

Allah “karim”, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.

Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.

“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat “laa ilaa ha illallah”. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”

Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:

“Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.”

Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.

Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.

Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).

Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:

“Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.”

Perbaharui imanmu dari saat ke saat.

“Wa kaifa nujaddid?”

Bagaimana kami memperbaharui iman kami?

“Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.”

Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.

Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan “laa ilaa ha illallah. ” Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.

Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:

“Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.”

Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.

Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat “laa ilaa ha illallah”. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.

Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.

Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?

“Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.”

Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.

Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.

Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.

Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?

Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:

{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.

Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?

Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.

Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.

Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.

Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.

“Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.”

Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?

Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.

Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”

Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?

Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”

Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.

Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.

Rasulullah bersabda:

“Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.”

Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.

Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa

Silahkan Download artikelnya.semoga bermanfaat

Selasa, 12 April 2011

SOAL EKSKUL KEAGAMAAN VII&VIII

LEMBARAN SOAL

Mata Pelajaran : EKSKUL KEAGAMAAN
Sat. Pendidikan : MTS AL MA’ARIF

Kelas / Program : XIII ( DELAPAN )

PETUNJUK UMUM

1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan

2. Periksa dan bacalah soal dengan teliti sebelum Anda bekerja

3. Kerjakanlah soal anda pada lembar jawaban

4. Gunakan waktu dengan efektif dan efisien

5. Periksalah pekerjaan anda sebelum diserahkan kepada Pengawas

clip_image001

SOAL :

1. Didalam al-Qurán lafadz كلا terdapat pada ..................tempat.

A. 32

B. 33

C. 34

D. 35

2. Dari jumlah yang tesebut di atas lafadz كلا terdapat pada sebagian yang...........dari al-Qur’an.

A. Depan

B. Tengah

C. Semuanya

D. Akhir

3. Lafadz كلا yang tidak baik di baca وقف juga tidak baik dibuat permulaan,yang sebaiknya disambungkan dengan lafadz yang sebelumnya dan lafadz yang sesudahnya di dalam al-Qur’an terdapat pada..........tempat

A. 1

B. 2

C. 3

D. 4

4. Lafadzكلا hukum bacaannya terbagi menjadi........

A. 2

B. 3

C. 4

D. 5

5. Ayat-ayat yang mengandung sujud tilawah di dalam al-Qur’an jumlahnya ada ….

A. 12

B. 13

C. 14

D. 15

6. Lafadz كلا lebih baik di baca وقف dengan makna الردع tetapi juga boleh di baca sebagai permulaan dengan makna....

A. من

B. حقا

C. حقي

D. الحق

7. Membaca basmallah hukumnya haram menurut pendapat Ibnu Jarir yaitu pada awal surat..

A. Nun

B. Qof

C. At – Taubah

D. Al - Hujurot

8. lafadz كلا yang lebih baik di baca وقف dengan makna الردع di dalam al-Qur’an terdapat pada..........tempat.

A. 9

B. 10

C. 11

D. 12

9. Setiap membaca al-Qur’an kita di sunnahkan membaca ta’awud yang hukumnya adalah...

A. Wajib

B. Sunnah

C. Makruh

D. Mubah

10. Ayat berikut adalah ayat sajadah dariفَلا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ (١٦)وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ (١٧)وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ (١٨)لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ (١٩)فَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٢٠)وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لا يَسْجُدُونَ (٢١).......

A. Surat an Naml

B. Surat al Furqon

C. Surat al insyiqoq

D. Surat al Hajj

11. “امين” adalah sunnah ucapan yang harus di baca ketika selesai membaca …

A. Surat al Baqoroh

B. Surat ali Imron

C. Surat al Maidah

D. Surat al An’am

12. Ayat berikut ini adalah ayat sajadah dari وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا (٦٠)….

A. Surat an Naml

B. Surat al Furqon

C. Surat al insyiqoq

D. Surat al Hajj

13. Dibawah ini yang termasuk . Lafadz كلا yang terdapat pada bahasan soal no 6 adalah..........

A. فيقولو ربي اها نن.كلا

B. كلا لو تعلمون

C. كلا سوف تعلمون

D. كلا انها تذ كرة

14. Dibawah ini yang termasuk . Lafadz كلا yang terdapat pada bahasan soal no 4 adalah …

A. فيقولو ربي اها نن.كلا

B. يحسب ان ماله احلده.كلا.....

C. كلا سوف تعلمون

D. كلا انها تذ كرة

15. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela adalah termasuk ...........

A. Pengertian pidato

B. Maksud pidato

C. Tujuan pidato

D. Keinginan pidato

16. Dibawah ini adalah tokoh-tokoh (Imam) qiroat yang tujuh kecuali …..

A. Nafi’

B. Ibnu Amir

C. Hamzah

D. Ubay bin Ka’ab

17. Lafadz كلا pada ayat di surat al-Qiyamat tersebut ini mestinya dibaca كَلا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (٢٦)وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (٢٧) ….

A. Baik sebagai permulaan

B. Sebaiknya dibaca waqof

C. Harus waqof

D. Semuanya salah

18. Tersebut ini adalah ayat sajadah yang terdapat pada. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ....

A. Surat al A’rof

B. Surat as Sajadah

C. Surat Hajji

D. Surat al Isro’

19. Di bawah ini adalah ayat – ayat yang kita di perintahkan sujud tilawah kecuali ..

A. Surat ar Roed ayat 16

B. Surat as Sajjadah ayat 15

C. Surat an Naml ayat 2

D. Surat an Nahl ayat 50

20. Lafadz كلا pada ayat di surat al-Mudatsir tersebut ini mestinya di baca كَلا وَالْقَمَرِ (٣٢)

A. Baik sebagai permulaan

B. Sebaiknya dibaca waqof

C. Harus waqof

D. Semuanya salah

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar.

Surat al-Haqqoh ayat 38 - 52

فَلا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ (٣٨)وَمَا لا تُبْصِرُونَ (٣٩)إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٤٠)وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلا مَا تُؤْمِنُونَ (٤١)وَلا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (٤٢)تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٤٣)وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ (٤٤)لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (٤٥)ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (٤٦)فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (٤٧)وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (٤٨)وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ (٤٩)وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ (٥١)فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (٥٢)

1. Salinlah dengan baik serta berharokat lengkap penggalan dari surat al-Haqqoh diatas?

2. Tulislah dengan berharokat lengkap bacaan ketika kita mendapati ayat-ayat sajadah?

WASSALAM

LEMBARAN SOAL

Mata Pelajaran : EKSKUL KEAGAMAAN
Sat. Pendidikan : MTS AL MA’ARIF

Kelas / Program : XII ( TUJUH )

PETUNJUK UMUM

1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan

2. Periksa dan bacalah soal dengan teliti sebelum Anda bekerja

3. Kerjakanlah soal anda pada lembar jawaban

4. Gunakan waktu dengan efektif dan efisien

5. Periksalah pekerjaan anda sebelum diserahkan kepada Pengawas

SOAL :

1. Didalam al-Qurán lafadz بلى terdapat pada ..................tempat.

A. 20

B. 21

C. 22

D. 23

2. Lafadz بلى didalam al-Qur’an hukum cara pembacaannya terbagi menjadi....

A. 3

B. 4

C. 5

D. 6

3. Membaca basmallah di awal surat al – fatihah hukumnya adalah………….

A. Wajib

B. Sunnah

C. Haram

D. Mubah

4. Setiap membaca al – Qur’an kita di sunnahkan membaca ta’awudz yang hukumnya adalah...

A. Wajib

B. Sunnah

C. Makruh

D. Mubah

5. Lafadz بلى lebih baik dibaca waqof,walaupun di dalam tulisan ayatnya tidak ada tanda waqofnya di dalam al-Qur’an terdapat........….tempat.

A. 8

B. 9

C. 10

D. 11

6. Khat yang berkembang pada masa Ali bin Abu Tholib adalah.....

A. Khufi

B. Nasta’liq

C. Diwani

D. Diwani jali

7. Lafadz بلى pada ayat berikut ini sebaiknya dibaca أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ …

A. Waqof

B. Washol

C. Saktah

D. Imalah

8. Kaligrafi yang terdapat di dalam mushaf al - Qur’an secara umum terdiri atas..............

A. Kaligrafi teks (nash) Alquran dan kaligrafi nama-nama surah

B. Kaligrafi teks pias (pinggir halaman), berupa tulisan juz, angka halaman, tajwid, qiraat, terjemahan, atau catatan-catatan lain yang biasanya ditulis di bagian pinggir naskah

C. Kaligrafi teks-teks sebelum dan sesudah teks Alquran, berupa doa-doa dan daftar surah

D. Benar semua

9. Lafadz بلى pada ayat berikut ini sebaiknya dibaca إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا.

A. Waqof

B. Washol

C. Saktah

D. Imalah

10. Imam Nafi’ telah mengambil bacaan bacaan al – Qur’an lebih dari 70 tabi’in di antaranya adalah..........

A. Abu Ja’far

B. Ali bin abu Tholib

C. Muawiyah

D. Khalid bin Walid

11. Lafadz بلى yang lebih baik dibaca washol (disambung) didalam al-Qur’an terdapat pada …...tempat.

A. 5

B. 6

C. 7

D. 8

12. Naskah pidato terdiri atas tiga bagian, yaitu ….

A. Pembukaan,isi,Penutup.

B. Salam,isi,Penutup

C. Assalamu’alaikum,isi,Wa’alaikumussalam

D. Pembukaan,Pidato,Penutup

13. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela adalah termasuk ...........

A. Pengertian pidato

B. Maksud pidato

C. Tujuan pidato

D. Keinginan pidato

14. Lafadz بلى pada ayat di surat al-Qiyamat tersebut ini mestinya dibaca بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ …

A. Waqof

B. Washol

C. Saktah

D. Imalah

15. Lafadz بلى pada ayat di surat Ali-Imron tersebut ini mestinya dibaca تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ (١٢٤)بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ ….

A. Waqof

B. Washol

C. Saktah

D. Boleh washol atau waqof

16. Imam yang telah mengambil bacaan Qur’annya dari Abu Darda’ seorang sahabat besar dan juga Utsman r.a adalah

A. Ibnu Amir

B. ‘Ashim

C. Hamzah

D. Athiyah bin Qois

17. Suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk di sampaikan kepada orang banyak adalah….

A. Pengertian pidato

B. Maksud pidato

C. Tujuan pidato

D. Semua salah

18. Hal- hal yang harus ada dalam naskah pidato adalah kecuali......

A. Salam atau sapaan pembuka

B. Pembuka pidato

C. Isi pidato dan salam penutup

D. Pesan pidato

19. Lafadz بلى yang boleh dibaca waqof dan boleh juga dibaca washol didalam al-Qur’an terdapat pada.........tempat.

A. 5

B. 6

C. 7

D. 8

20. Yang telah mengambil bacaan dari Hamzah dan Abu Bakar bin ‘Iyasy adalah..

A. Al – Kisa’i

B. Nafi’

C. Ibnu Katsir

D. Yahya bin Harits

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar

Surat al-Qiyamat. ayat 1 - 19

لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (١)وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢)أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ (٣)بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ (٤)بَلْ يُرِيدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ (٥)يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ (٦)فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ (٧)وَخَسَفَ الْقَمَرُ (٨)وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (٩)يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ (١٠)كَلا لا وَزَرَ (١١)إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ (١٢)يُنَبَّأُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ (١٣)بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ (١٤)وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ (١٥)لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (١٦)إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (١٧)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨)ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (١٩)

1. Salinlah dengan baik serta berharokat lengkap penggalan dari surat al-Qiyamat diatas?

2. Salinlah ayat 6 sampai dengan ayat 9 menggunakan khath khufi?

WASSALAM

Minggu, 13 Februari 2011

24 tahun Fatwa Mati

Salman Rushdi

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung.

Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi.
Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.

Dengan nama-Nya Yang Maha Tinggi
Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun.

Saya beritahukan kepada kaum muslimin pemberani di seluruh dunia. Telah diterbitkan buku Ayat-ayat Setan yang menghina Islam, Nabi dan al-Quran. Penulis serta penerbit buku itu hukumannya adalah MATI!

Saya mengharap kepada seluruh kaum muslimin pemberani yang menemukan mereka di mana saja untuk membunuh mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menghina hal-hal yang disucikan oleh kaum muslimin.

Siapa saja yang mati dalam usaha membunuh mereka, terhitung sebagai syahid Insya Allah. Perlu diketahui, bila seseorang mengetahui keberadaan si penulis buku, namun ia sendiri tidak dapat membunuhnya, maka ia harus mengabarkan kepada orang lain sehingga mereka yang akan melakukan pembunuhan itu dan ia dapat merasakan akibat dari amal perbuatannya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

25/11/1367 (14 Pebruari 1989)
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini

Pendahuluan
Tanpa terasa, fatwa hukuman mati Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 24 tahun. Pada masa dikeluarkannya fatwa tersebut tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena pada waktu itu, Iran baru saja menerima resolusi PBB nomor 598 yang berarti gencatan senjata dengan Irak. Dengan itu, Iran tentu disibukkan dengan usaha untuk melakukan perdamaian.

Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya melewati batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Imam Khomeini dalam segala urusannya hanya untuk Allah dan agama. Ia senantiasa berusaha untuk itu dan tidak pernah menunjukkan keletihan dalam masalah ini. Ketika Imam Khomeini mengetahui isi buku Ayat-ayat setan, ia langsung menciap kebatilan buku ini. Ada rencana di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat beliau mengeluarkan fatwa bersejarahnya.

Lebih jauh tentang Salman Rushdi
Salman Rushdi lahir di kota Devanegari, Bombai India pada tanggal 19 Juni 1947. Setelah Pakistan berdiri sendiri, ia bersama keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu berimigrasi ke Inggris. Ia ke Inggris ketika berumur 13 tahun dan menyelesaikan sekolahnya di sana. Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah di universitas Cambridge, ia kembali ke Pakistan. Dengan menulis artikel selama di Inggris, ia dapat membayar sebagian biaya sekolahnya sendiri. Akhirnya ia pindah warga negara Inggris.

Tujuh tahun setelah menulis artikel ia akhirnya berhasil menulis novel berjudul Midnight’s Children tahun 1981. Dengan buku itu ia mendapat hadiah sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual. Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey 1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke Nikaragua.

Gaya penulisannya adalah Realisme, namun dengan mengubah semua tokoh asli begitu juga tempat kejadian. Gaya penulisannya tidak mengikuti pakem yang ada selama ini. Dengan ini ia sesuka hati ia menulis apa saja dan menisbatkannya kepada siapa saja yang disukainya. Bukunya yang paling menyedot perhatian adalah The Satanic Verses yang dikenal dengan nama Ayat-ayat Setan. Buku ini ditulisnya pada tahun 1988.

Latar belakang penulisan buku Ayat-ayat Setan
Menganalisa cara berpikir Salman Rushdi dapat lacak dari keluarganya. Ibunya adalah seorang penari bernama Vanita. Pada masa remajanya ia disukai oleh seorang pemuda bernama Raju. Vanita beberapa kali lewat Salim Khan, gubernur Bombai, melakukan penghinaan terhadap masjid. Pernah ia meletakkan kepala babi di undak-undakan masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum muslimin. Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat bayaran dari Salim Khan.

Rupanya Salim Khan juga tertarik dengan Vanita dan hendak mempersuntingnya. Sebagai jawabannya ia menjawab: “Aku menikah karena uang dan kalau engkau punya uang aku menjadi milikmu”. Setelah setuju, ia akhirnya menikah dan dibawa ke istana. Ia menghabiskan malamnya di istana Lord William dan sejak malam itu, ia tidak keluar-keluar dari istana.

Ketika Lord William dipanggil untuk kembali ke Inggris, ia berkata kepada Vanita: “Aku punya istri di Inggris dan ayahnya punya pengaruh kuat di sana. Aku tidak dapat membawamu ke sana”. Lord William pergi. Vanita kembali ke pelukan Raju yang masih menantinya. Setelah Vanita melahirkan anaknya ia meninggal. Raju membawa anak itu dan meninggalkannya di masjid. Seorang bernama Safdar menemukan bayi tersebut dan membawanya pulang ke rumahnya. Ia kemudian memberinya nama Salman. Ia besar di keluarga muslim.

Semenjak kecilnya ia terkenal nakal. Pada umur tiga belas tahun ia sudah tiga belas kali ditahan polisi. Pada masa itu, istri Lord William meninggal. Karena tidak punya anak dari istrinya, ia kemudian mengingat Vanita dan anaknya. Ia mengirim surat kepada Salim Khan untuk menemukan anaknya. Lewat Raju, Lord William menemukan Salman. Ketika tahu bahwa dia adalah anak dari seorang perwira inggris, ia sangat senang. Ia kembali ke rumah. Di rumah ia menemukan ibu angkatnya tengah menunaikan salat. Ketika sujud, ia menginjak kepala ibu angkatnya sehingga kepalanya terluka. Ia keluar dari rumah dan kemudian berangkat ke Inggris.

Ia kemudian di masukkan asrama melanjutkan sekolahnya di Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Umar anak Mesir. Mereka kemudian menjalin percintaan dan sepakat untuk menikah. Mereka akhirnya membuka ajaran-ajaran agama yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Mereka tidak menemukan ajaran yang memperbolehkan. Ketika Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap agama-agama.

Ayat-ayat Setan
Salman Rushdi menulis banyak buku. Bila jeli melihat karangan-karangannya, kebanyakan isinya menghina agama dan keyakinan masyarakat setempat. Dalam bukunya Grimus (1975), secara terang-terangan ia menghina keyakinan orang-orang India. Buku Shame (1983) ditulisnya juga dengan isi yang sama.

Midnight’s Children (1981) ditulis mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Bukunya The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya.

Puncak penghinaannya terhadap agama dengan menulis novelnya yang berjudul The Satanic Verses (1988). Ia menulis buku ini pada usia 47 tahun. Sebelum ia menulis buku ini, ia ikut hadir dalam sebuah pertemuan yang bermaksud untuk menghancurkan agama tidak lagi dengan senjata, tapi dengan tulisan. Tujuan itu terealisasikan dengan diterbitkannya buku ini.

Untuk pertama kalinya ketika dicetak dalam 547 halaman. Buku ini dicetak oleh penerbit Viking anggota jaringan penerbit Penguin. Salman Rushdi menulis buku ini karena pesanan pimpinan Viking, seorang Yahudi, dengan bayaran gila-gilaan 850 ribu pound.

Buku Ayat-ayat Setan bukanlah buku ilmiah, melainkan hanya sekedar fantasi penulis. Sekalipun demikian, penghinaannya terhadap keyakinan yang disucikan oleh kaum muslimin tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Untungnya, Imam Khomeini cepat tanggap rencana besar dibalik penerbitan buku ini. Beliau kemudian mengeluarkan fatwa hukuman mati yang bersejarah. Fatwa ini membuat skenario besar itu prematur. Umat Islam tersadar dan ini membuat Barat lebih berhati-hati. Inggris sebagai pembela nomor satu Salman Rushdi mencoba menekan Iran dengan ancaman ekonomi dan politik agar Imam Khomeini menarik kembali fatwanya. Tidak cukup itu saja, dengan menggerakkan 12 negara lainnya mereka kemudian memburukkan citra Iran dan Imam Khomeini.

Di balik tekanan dari negara-negara Barat, keteguhan Imam Khomeini membuat mereka lelah dan kemudian pasif menerima. Di sisi lain, ini seperti meniupkan semangat baru ke dalam dunia Islam. Penerbit buku Ayat-ayat Setan, Viking, langsung mengeluarkan pernyataan: “Penerbit dan penulis tidak punya maksud menyakiti kaum muslimin. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Penerbitan buku Ayat-ayat Setan dilakukan karena ditulis oleh seorang penulis top dan isinya fiktif. Penerbitannya karena menghormati kebebasan berekspresi. Salah satu prinsip demokrasi”.

Salman Rushdi sendiri dalam wawancaranya dengan CBS mengatakan:

“Buku ini punya dua khayalan yang coba saya hubungkan dengan munculnya sebuah agama yang mirip dengan Islam. Tapi ini sebuah Islam khayalan. Tokoh yang berkhayal dalam buku itu, pada intinya akalnya telah hilang, gila. Bila seorang berkhayal semacam ini, sangat aneh bila tulisan ini dianggap menghina Islam. Sama sekali saya tidak berniat itu”.

Sempat muncul bisik-bisik di Iran, bahwa bila Salman Rushdi bertobat, mungkin saja tobatnya diterima. Namun, hal ini ditolak oleh kantor Imam Khomeini. Bahkan disebutkan seandainya Salman Rushdi kemudian menjadi orang paling zuhud di muka bumi pun, membunuhnya adalah wajib.

Hukuman mati telah dihapus?
Imam Khomeini pada tahun itu juga, 1987, berbicara di hadapan para rohaniwan:

“Masalah buku Ayat-ayat Setan adalah rencana yang telah disiapkan dengan baik untuk menghancurkan akar ajaran Islam dan keberagamaan umat Islam. Puncak dari semua itu adalah Islam dan rohaniwan”.

Ketika fatwa Imam Khomeini tidak lagi diulang-ulangi, Barat mulai berani mengeluarkan isu bahwa fatwa Imam telah ditarik kembali. Isu ini dimunculkan tidak hanya sekali, tetapi dimuat berulang-ulang. Ayatullah sayyid Ali Khamene’i bereaksi dengan keras.

Pada musim haji dua tahun lalu beliau mengeluarkan pernyataan:

“Hukuman mati yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini terhadap Salman Rushdi berlandaskan ayat-ayat al-Quran. Sebagaimana ayat-ayat lain yang kokoh dan tidak dapat dihapus, hukum ini tetap dan tidak dapat dihapus”.

Penutup
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.

Masihkah Barat tidak ingin mengambil pelajaran dari fatwa ulama Islam seperti Imam Khomeini? Bila ditanya, mengapa kalian melindungi dan membiarkan orang-orang menghina keyakinan orang lain? Jawabannya adalah kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang selalu dijajakan untuk menghina keyakinan orang lain. Pertanyaannya, adakah kebebasan yang memperbolehkan menghina keyakinan orang lain?.

Rabu, 19 Januari 2011

Mengkafirkan

Salafy/Wahhabi selalu menolak mengakui bahwa mazhab-nya adalah mazhab yang suka mengkafirkan mazhab lainnya. Tetapi fakta berbicara sebaliknya.

Mereka banyak sekali mengeluarkan fatwa mengkafirkan mazhab atau ulama lain. Bahkan ulama2 dari berbagai lintas mazhab mereka kafirkan, seperti Sayyid Quthb, Muhammad al-Ghazali, Yusuf al-Qardhawi, Abul Ala al-Maududi, Hasan al-Bannaa, Muhammad Surur dan Muhammad Ahmad ar-Raasyid, Said Hawwa, Salman al- Audah, Safar al¬Hawaii, Nashir al- Umr, Aaidh al-Qarni, Mahmud Abdul Halim dan Jasim al-Muhalhal serta murid-murid al-Bannaa, dan keluarga Quthb. Dari Ulama Sufi sampai Ulama syiah, dari HT sampai Ikhwanul Muslimin, dan dari JIL sampai Jamaah Tabligh semuanya kebagian fatwa sesat.

Dan tidak tanggung-tanggung, ulama-ulama salafy sendiri juga mereka sesatkan karena tidak mau mendengar ucapan-ucapan ulama panutan mereka, diantaranya Ihya-ut Turats, Abu Bakar Baasyir dan Jafar Umar Thalib.

Saya yakin, jika dikumpulkan fatwa sesat dari seluruh ulama salafy/wahhabi, maka menurut salafy/wahabi, tidak tersisa satupun umat islam kecuali ulama2 dan pengikut mereka saja.

Jika ingin tahu pendakwah salafy/wahhabi yang wajib diataati dan jika tidak taat maka bisa dikatakan sesat/kafir (terbukti fatwa sesat kepada Jafar Umar Thalib), silahkan buka di artikel “Siapakah para Ulama dakwah salafiyah masa kini?” di

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=418

Jumat, 24 Desember 2010

IBU

Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua