Kamis, 20 Mei 2010

Menggabar kartun nabi Muhammad SAW di facebook

  Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring akan mengirim surat ke pengelola situs jejaring sosial Facebook di luar negeri mengenai lomba menggambar kartun Nabi Muhammad di akun tersebut.

“Percuma kalau sudah dihapus kalau ada pihak lain yang memposting kembali, untuk itu perlu juga kesadaran dari kita semua mengenai hal tersebut”, kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, lomba menggambar kartun di akun Facebook adalah celah untuk memprovokasi kerukunan umat beragama.“Untuk itu, kami meminta kepada masyarakat agar tidak terpancing oleh akun tersebut dan kita cooling down saja menghadapi hal ini”, katanya.

Menurut dia, mengenai Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (RPM Konten) tentang pembatasan konten multimedia, tidak akan mengatur kebebasan pers dan hanya mengatur unsur negatif di dalamnya.“Unsur negatif tersebut adalah pornografi, penjudian, penipuan, kekerasan dan penghinaan terhadap agama, suku dan ras, kata Tifatul Sembiring.Ia menambahkan, kecanggihan teknologi yang sekarang ini dilakukan tidak hanya untuk hal positif tapi banyak juga pihak yang melakukan untuk hal negatif, untuk itu pihaknya akan meminimalisasikan hal tersebut dengan RPM Konten.Menurut survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) tahun 2007 lalu, katanya, 97 persen siswa SMP dan SMA pernah menonton atau mengakses film porno di website, 92, 7 persen melakukan oral seks, 67,2 berhubungan badan dan 21,2 melakukan aborsi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk dapat ‘mencekal’ alamat grup di Facebook berjudul‘Everybody Draw Mohammed Day!’
“Harusnya Kementerian Komunikasi dan Informasi dapat mencekal adanya peredaran seperti ini. Karena menggambar Nabi Muhammad mengarah kepada penghinaan agama,” ujar Ketua MUI Amidhan kepada detikINET, Rabu (19/5/2010).

Selain itu, Amidhan juga berpesan kepada seluruh masyarakat Muslim agar tidak terpancing dan mengikuti lomba tersebut yang akan digelar pada 20 Mei 2010. “Ini cyberwar. Pemerintah harus segera bertindak,” tegasnya.

Amidhan mengingatkan, penghinaan akan dapat memperkeruh suasana dengan dengan para penganut dan kelompok-kelompok yang berbeda dengan Islam.

“Saya harap ini segera dapat diselesaikan sehingga tidak menimbulkan kekacauan,” pintanya. Sementara itu, Kemenkominfo belum bisa dimintai konfirmasi terkait isu ini. ( fw / fw /detikinet

Minggu, 16 Mei 2010

Di Bank Dunia, Sri Mulyani Hanyalah 'Kacung'

OLEH: ARIEF TURATNO

BEGITU Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan mundur dari jabatannnya, reaksi pasar Indonesia sempat bergolak. Sejumlah media, termasuk Koran ternama di Tanah Air, membuat berita dan memajang gambar SMI sedemikian. Bahkan ada yang mengelu-elukan SMI bak pahlawan. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengomentari tentang kedudukan SMI mendatang sebagai Direktur Bank Dunia (World Bank) sebagai bentuk pengabdian. Pertanyaan dan persoalannya adalah posisi macam apa sih yang nanti dijabat SMI di Bank Dunia itu

Seorang teman yang paham betul tentang apa Bank Dunia dan peranannya dalam percaturan ekonomi dunia mengatakan, bahwa SMI di perusahaan itu tidak lebih dari seorang karyawan. Dia tidak lebih dari seorang “kacung” dari Bank Dunia, yang tidak memiliki peran banyak dalam menentukan kebijakan bank tersebut. Itulah sebabnya, untuk jabatan tersebut diangkat---kebanyakan---dari para mantan menteri negara-negara berkembang atau dunia ketiga, diantaranya SMI sendiri. Jadi menurut teman tadi, tidak ada istimewa. Pertanyaannya adalah kalau jabatan SMI tidak istimewa, yang manakah yang dianggap istimewa?

Sebenarnya, posisi sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) jauh lebih baik daripada sebagai Direktur Bank Dunia. Mengapa? Karena sebagai menteri keuangan dari negara yang menjadi anggota Bank Dunia, seperti Indonesia memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan bank tersebut. Dan meskipun, hanya setahun sekali menteri keuangan mengikuti rapat Bank Dunia---dalam kapasitas sebagai Dewan Gubernur Bank Dunia--- namun apa yang dikemukakan dalam rapat tahunan itu justeru sangat menentukan. Berbeda dengan Direktur Bank Dunia, yang hanya menjalankan saja  dari keputusan rapat tersebut.

Sampai saat ini, negara yang menjadi anggota Bank Dunia tercatat 186 negara. Namun dari 186 negara itu, hanya diwakili oleh 24 orang Direktur Eksekutif Bank Dunia. Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia sebenarnya memiliki point atau kontribusi paling tinggi dibanding negara lainnya. Namun anehnya, tidak ada satu pun orang Indonesia yang menjadi Direktur Eksekutif. Dari kawasan ASEAN, justeru Direktur Eksekutif Bank Dunia diambil wakil dari Thailand. Kita tidak tahu, mengapa Indonesia bisa tidak terpilih. Ada yang menduga karena kita kalah dalam diplomasi luar negeri dengan Thailand.

Padahal posisi Direktur Eksekutif jauh lebih baik dari Managing Director World Bank sebagaimana yang bakal disandang Sri Mulyani Indrawati. Mengapa? Karena mereka, termasuk SMI hanyalah menjadi pelaksana tugas apa yang dirumuskan oleh Direkttur Eksekutif. Sekali lagi, SMI nantinya tidak punya kebijakan apa-apa. Sebab dia hanyalah sekedar pelaksana tugas dari Bank Dunia. Kalau kita mau membanggakan diri, maka jadilah Menteri Keuangan saja. Sebab dia adalah anggota Dewan Gubernur yang dapat mendelegasikan kebijakannya kepada Direktur Eksekutif. Dan Direktur Eksekutif selanjutnya mendelegasikan kebijakannya kepada Direktur. Jadi apa namanya, kalau bukan “kacung” Bank Dunia?

Rabu, 12 Mei 2010

Hati-hati

 

Syeikh Aidh Al-Qarni difatwa Sesat oleh Salafy!

aid_alqarniTahukah anda seorang ulama salafy dari Saudi Arabia Syeikh Aidh al-Qarni [lihat foto], pengarang buku “La Tahzan” yang terjemahannya cukup laris di Indonesia, ternyata juga seorang yang “sesat” bukan menurut ulama diluar kelompok salafy lho, akan tetapi menurut seorang ulama salafy pula. ingin tahu fatwa tersebut? silahkan baca fatwa pensesatannya yang dimuat olehwww.salafy.or.id dibawah ini:

Fatwa tentang kesesatan Aidl Al-Qarny

Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=508

Selasa, 10 Februari 2004 – 00:10:54 kategori Fatwa-Fatwa

Penulis: Syaikh Fauzi bin Abdullah Al-Atsary

Fadhilatus-Syaikh dari Bahrain, Syaikh Fauzi Al-Atsary (hafizhahullah) ditanya pertanyaan berikut:

“Siapakah Aidl Al-Qarny dan apakah diperbolehkan mendengarkan kasetnya?”

Syaikh menjawab:

“Seseorang tidaklah seharusnya mendengarkan orang ini dan orang yang semacamnya. Dia ini dari Ahlul Bid’ah, Quthubiyyun dan dia adalah seorang Sufy. Pernyataan-pernyataannya bersesuaian dengan Sufiyyah. Dia menyeru kepada Quthubiyyah dan politik. Dia berbicara buruk tentang Ulama. Dia memiliki kaset rekaman di mana dia berkata bahwa Ulama tidak keluar dalam jihad, dan bahwasanya mereka tidak memberikan fatwa tentang jihad dan banyak kebohongan lainnya tentang Ulama. Maka tidak diperbolehkan mendengarkan kaset-kasetnya.”

(Sumber: “Kaset Ushul Da’wah Salafiyyah” -30 July 2003, Copenhagen, Denmark
[www.darulhadith.com, 29 08 2003]. Diterjemahkan tim salafy.or.id. Muroja’ah al ustadz Abu Hamzah]

WASPADAI WAHABISASI DI ANTARA KITA

 

Imam Malik ibn Anas (W 179 H) Berkeyakinan Allah Ada Tanpa Tempat, Tidak Seperti Yang Sering Diselewengkan Kaum Wahhabiyyah..!!

Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.

Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.
Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

“Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.
Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).
Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

kesimpulan, Aqidah Imam Malik, Imam AbuHanifah, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad ibn Hanbal adalah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Imam al-Fakhr ar-Razi (606 H) Dalam at-Tasir al-Kabir: ALLAH ADA TANPA TEMPAT (Membongkar Kesesatan Aqidah Wahabi)

Seorang ahli tafsir terkemuka, Imam al-Fakhr ar-Razi (w 606 H) dalam kitab tafsirnya menuliskan sebagai berikut:

“Jika keagungan Allah disebabkan dengan tempat atau arah atas maka tentunya tempat dan arah atas tersebut menjadi sifat bagi Dzat-Nya. Kemudian itu berarti bahwa keagungan Allah terhasilkan dari sesuatu yang lain; yaitu tempat. Dan jika demikian berarti arah atas lebih sempurna dan lebih agung dari pada Allah sendiri, karena Allah mengambil kemuliaan dari arah tersebut. Dan ini berarti Allah tidak memiliki kesempurnaan, sementara selain Allah memiliki kesempurnaan. Tentu saja ini adalah suatu yang mustahil”( at-Tafsîr al-Kabîr, QS. al-Baqarah: 225, jld. 4, juz 7, h. 14).

Pada bagian lain dari tafsirnya dalam penafsiran firman Allah QS. Thaha: 5 Imam al-Fakhr ar-Razi menuliskan sebagai berikut:

“Masalah kedua; Kaum Musyabbihah menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam menetapkan keyakinan mereka bahwa Tuhan mereka duduk, bertempat atau bersemayam di atas arsy. Pendapat mereka ini jelas batil, terbantahkan dengan dalil akal dan dalil naql dari berbagai segi;

Pertama: Bahwa Allah ada tanpa permulaan. Dia ada sebelum menciptakan arsy dan tempat. Dan setelah Dia menciptakan segala makhluk Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, tidak butuh kepada tempat, Dia Maha Kaya dari segala makhluk-Nya. Artinya bahwa Allah Azali -tanpa permulaan- dengan segala sifat-sifat-Nya, Dia tidak berubah. Kecuali bila ada orang berkeyakinan bahwa arsy sama azali seperti Allah. (Dan jelas ini kekufuran karena menetapkan sesuatu yang azali kepada selain Allah)”.

Kedua: Bahwa sesuatu yang duduk di atas arsy dipastikan adanya bagian-bagian pada dzatnya. Bagian dzatnya yang berada di sebelah kanan arsy jelas bukan bagian dzatnya yang berada di sebelah kiri arsy. Dengan demikian maka jelas bahwa sesuatu itu adalah merupakan benda yang memiliki bagian-bagian yang tersusun. Dan segala sesuatu yang memiliki bagian-bagian dan tersusun maka ia pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam susunannya tersebut. Dan hal itu jelas mustahil atas Allah.

Ketiga: Bahwa sesuatu yang duduk di atas arsy dipastikan ia berada di antara dua keadaan; dalam keadaan bergerak dan berpindah-pindah atau dalam keadaan diam sama sekali tidak bergerak. Jika dalam keadaan pertama maka berarti arsy menjadi tempat bergerak dan diam, dan dengan demikian maka arsy berarti jelas baharu. Jika dalam keadaan kedua maka berarti ia seperti sesuatu yang terikat, bahkan seperti seorang yang lumpuh, atau bahkan lebih buruk lagi dari pada orang yang lumpuh. Karena seorang yang lumpuh jika ia berkehendak terhadap sesuatu ia masih dapat menggerakan kepada atau kelopak matanya. Sementara tuhan dalam keyakinan mereka yang berada di atas arsya tersebut diam saja.

Keempat: Jika demikian berarti tuhan dalam keyakinan mereka ada kalanya berada pada semua tempat atau hanya pada satu tempat saja tidak pada tempat lain. Jika mereka berkeyakinan pertama maka berarti menurut mereka tuhan berada di tempat-tempat najis dan menjijikan. Pendapat semacam ini jelas tidak akan diungkapkan oleh seorang yang memiliki akal sehat. Kemudian jika mereka berkeyakinan kedua maka berarti menurut mereka tuhan membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam kekhususan tempat dan arah tersebut. Dan semacam ini semua mustahil atas Allah” (at-Tafsîr al-Kabîr, QS. Thaha: 5, jld. 11, juz 22, h. 5-6).

Waspadai Wahabi, mereka menyebarkan aqidah sesat; mengatakan Allah bertempat di atas arsy, lalu pada saat yang sama juga mengatakan Allah bertempat di langit. mereka mengatakan Allah bertempat bahkan di dua tempat, heh!!!!! Na’udzu Billah!!!
Mereka yakin arsy dan langit sebagai ciptaan Allah; tapi mereka mengatakan Allah bertempat pada keduanya!!! di mana logika sehat mereka?????? itu artinya dalam keyakinan mereka; Allah berubah-ubah, dari semula yang ada tanpa arsy dan tanpa langit, lalu berubah menjadi bertempat pada keduanya!!!

Benar, mereka adalah kaum yang ditertawakan oleh orang2 tolol; sebelum ditertawakan oleh orang2 berakal….!!!!!!
waspadai mereka….!!! jaga anak2 dan generasi kita, jangan sampai berkeyakinan rusak ala Wahabi!!!!

Allah ada tanpa permulaan, Dia ada sebelum menciptakan arsy tanpa arsy. Maka demikian pula setelah menciptakan arsy; Dia ada tanpa arsy. Artinya; Allah tidak berubah, Dia yang menciptakan arsy maka Dia tidak berubah menjadi bertempat padanya.
Waspadai ajaran sesat Wahabi!!!!!!

Selasa, 11 Mei 2010

Jordania Boikot Produk Israel

 

Asosiasi profesi Jordania, Senin (10/5) meluncurkan gerakan boikot secara besar-besaran terhadap barang komuditas Zionis di Jordania, bersamaan dengan peringatan 62 tahun Nakbah Palestina.

Ketua asosiasi profesi dan asosiasi kedokteran Jordania, Ahmad Al-Armoto dalam konferensi persnya mengatakan, gerakan ini membawa slogan misi “Menuju Jordania yang bersih dari barang-barang Israel, bersamaan dengan peringatan ke 62 tahun nakbah (hari penjajahan) Palestina oleh Israel.

Tujuan kegiatana ini adalah untuk memberdayakan kembali gerakan boikot barang-barang Zionis serta menolak berinteraksi dengan Zionis dalam semua transaksi perdagangan, budaya, pariwisata dan yang lainya.

Sementara itu, anggota asosiasi kedokteran mengatakan, Jordania telah memboikot barang-barang Israel sejak ditanda tanganinya perjanjian Wadi Arubah tahun 1994. Oleh karena itu, selayaknya gerakan ini kembali digalakan ditengah makin masifnya agresi Zionis terhadap tempat suci ummat dan yahudisasinya, disamping pemberangusan terhadap hak-hak rakyat Palestina dengan memblokadenya di Gaza.

Dunia isinya hanya sementara

Memang itulah kenyataannya kesementaraan adalah sifat dunia dan bahkan segala sesuatu yang ada di dalamnya.Bahkan di dalam kesimpulanku adalah bahwa sifat kita hidup ini adalah "LAHIR MENDERITA dan MATI"

Dunia isinya hanya sementara

Memang itulah kenyataannya kesementaraan adalah sifat dunia dan bahkan segala sesuatu yang ada di dalamnya.Bahkan di dalam kesimpulanku adalah bahwa sifat kita hidup ini adalah "LAHIR MENDERITA dan MATI"

Senin, 10 Mei 2010

Al-Misbah

 [Tafsir Al Mishbah] Surah Al Maidah Ayat 012-014 Part 07 

Tafsir Al Mishbah oleh Dr. Quraish Shihab ... adalah termasuk jenis tafsir yang sangat bermanfaat insya Allah

Sabtu, 01 Mei 2010

Penuntun pengemis

 

Namanya tidak asing bagi orang yang suka menghadiri pengajian atau khotbah jumat. Silmi Kaffah, gadis kecil yang berusia 4 tahunan. Di usia BALITA tidak menghalangi dirinya untuk membantu mencari penghasilan orang tuanya. Kedua orang tuanya adalah penyandang cacat mata yang berprofesi sebagai pemijat. Orang barangkali tidak menyangka gadis kecil cantik ini mempunyai orang tua yang keduanya buta. Silmi kecil berkulit putih menjadi penuntun orang tuanya menuju pasien pijat yang memerlukan jasa kedua orang tuanya.

Bang Amir, pertama kali berkenalan dengan keluarga ini beberapa hari lalu, ketika mereka pindah ke sekitar rumah. Angsuran rumah petak perbulan 300 ribu yang disewanya mengharuskan kedua orang tua Silmi ini mencari pelanggan pijat secepatnya.

Berangkat dari rasa ingin membantu keluarga ini, istri bang Amir yang baik hati menjadi pasien pijat yang pertama kali. Dari percakapan ringan dengan ibunya Silmi terungkaplah alasan kepindahan ke kontrakan rumah yang baru, yaitu karena pasien pijat di tempat yang lama sangat sepi. Di rumah kontrakan yang baru ini, harapan mendapatkan pasien yang lebih banyak adalah keinginan satu-satunya keluarga Silmi ini.

Rambut Silmi yang sedikit memerah mendorong istri bang Amir bertanya kepada ibunya, “Rambut Silmi kok merah ? apa disemir, bu?”, tanyanya.

Pertanyaan iseng sebenarnya, akan tetapi jawaban dari ibu Silmi inilah yang akan merubah alur cerita hubungan keluarga bang Amir dan keluarga Silmi kecil.

“Sebenarnya kalau pas pasien sepi, salah satu yang dapat menuntun dan membantu suami saya cuma Silmi ini ….”, jawab ibu Silmi dengan polos.

“Menuntun kemana, bu ?”, balas istri bang Amir.

“Menuntun suami saya meminta-minta menjadi pengemis di Terminal Cililitan”, jawabnya polos. Seperti tersambar petir di siang bolong, terlihat kekagetan di wajah istri bang Amir.

“Sebenarnya kami malu bu melakukan profesi sebagai pengemis, akan tetapi tidak ada cara lagi yang dapat kami lakukan selain itu…”, imbuhnya dengan wajah dan suara yang masih polos.

Jawaban yang polos dan apa adanya ini, membuat detak jantung istri bang Amir berdegup cepat. Kepolosan wujud kejujuran dan kepasrahan. Perasaan bersalah dan berdosa menyelimuti hati kecil istri bang Amir. Jadi rambut Silmi yang sedikit memerah ini karena panas terik di Terminal Cililitan sana, batin istri bang Amir. Ya Allah… betapa besar dosa-dosa hamba membiarkan mereka menderita, rintih istri bang Amir.

Percakapan ini disampaikan juga ke bang Amir. Istri bang Amir pun meminta kepada bang Amir agar mau dipijat oleh ayahnya Silmi. Agar target penghasilan mereka dapat memenuhi untuk membayar kontrakan bulan ini. Karena kalau hari itu tidak ada pasien pijat, maka ayah Silmi akan berangkat ke Terminal Cililitan menekuni “sambilan”-nya.

Bang Amir memang sedikit tidak nyaman kalau dipijat. Maka hobi pijat pun tidak ada dalam rangkaian jalan hidupnya. Pengalaman yang sudah-sudah, setelah dipijat biasanya badan tidak menjadi enak, malah terasa “cekot-cekot” karena terasa ngilu semua. Karena itu penawaran pijat biasanya ditolak dengan halus oleh bang Amir. Akan tetapi setelah mendengar penuturan cerita istrinya tentang keluarga Silmi, akhirnya bang Amir menerima tawaran istrinya.

Sore itu bel rumah terdengar, “Tetttttttttt ….Tetttttttt”, pertanda ada tamu yang datang. Di depan rumah muncul Silmi kecil menuntun bapaknya yang buta.

“Masya Allah, luar biasanya si Silmi kecil ini, malaikat kecil penuntun ayahnya,” batin bang Amir.

Anak seusianya mempunyai dunia yang pasti menyenangkan dengan sibuk berlari-lari dan bermain ayunan di taman kampung. Dari obrolan kecil di tengah pemijatan, ayah Silmi mengatakan bahwa karena suhu badan dengan panas yang tinggi, menyebabkan ketika kecil harus kehilangan kedua penglihatannya. Ada hal yang luar biasa dari seorang ayah yang buta ini, yaitu begitu sayangnya kepada si Silmi kecil. Ditegurnya dengan halus si Silmi kecil apabila melakukan hal-hal yang dilihatnya akan mengganggu suasana pemijatan.

Allah Maha Adil, batin bang Amir, kasih sayang seorang ayah kepada anaknya tidak Allah padamkan walaupun nikmat penglihatan itu dicabut-Nya. Subhanallah, sangat malunya orang yang dapat melihat dan mempunyai anak yang sehat tetapi tidak bersyukur kepada Rabb Yang Maha Tinggi.

Anak paling kecil bang Amir adalah Fathimah, seusia dengan Silmi kecil.

“Mi, lihatlah Fathimah dan Silmi ini …”, kata bang Amir kepada istrinya suatu ketika.

Sambil dipegang tangan kedua anak itu erat-erat, bang Amir melanjutkan kalimatnya.

“Mi, kedua anak ini sama…. sama-sama makhluk Allah… anak dari manusia… mereka mempunyai ayah dan ibu…. mempunyai tangan dan mata… hanya takdir Allah menentukan lain… yang satu di asuh oleh hamba-Nya yang lebih berkecukupan… dan yang satu di asuh oleh hamba-Nya yang berada dalam kekurangan…. kedua anak ini mi, bernasib beda… bajunya beda, sandalnya beda, tempat tinggalnya beda…”, ujar bang Amir dengan mimik serius.

Keheningan melingkupi suasana mereka berdua. Entah renungan apa yang muncul di benak bang Amir dan istrinya.

“Mi, kalau kecukupan ini adalah sebuah nikmat dan jalan kemudahan…. betapa Allah telah memuliakan kita ya mi…”, sambung bang Amir lirih.

Bang Amir pun teringat akan dirinya selama ini, betapa banyak nikmat Allah yang terkadang tidak sempat disyukurinya. Betapa banyak keluarga-keluarga seperti keluarga Silmi ini yang membutuhkan uluran pertolongan si mampu.

“Ah, seandainya mereka yang jauh nun di sana dapat bersatu saling membahu…. mungkin keluarga ini dapat lebih tertolong …”, batin bang Amir menutup keheningan malam.

Kesedihan bang Amir semakin terasa ketika mendengar bahwa  Silmi sekeluarga telah pindah ke kontrakan barunya, karena sepinya pelanggan pijat. Duh ! Ya Robbi.