Jumat, 17 September 2010

Pidato Khamenei Menanggapi Pembakaran Alquran

 

Pidato Khamenei Menanggapi Pembakaran Alquran

Ayatollah Ali Khamenei

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Allah Yang Maha Bijaksana dan Mulia berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan Kami yang akan menjaganya

Bangsa Iran yang mulia serta Umat Islam dunia yang besar!
Tindakan keji dan penghinaan terhadap Alquran yang mulia yang menyebabkan kebencian seluruh pihak yang terjadi di bawah keamanan polisi di Amerika merupakan sebuah kejadian besar dan pahit yang tidak bisa dianggap sebagai sebuah tindakan bodoh beberapa orang bayaran semata.  Namun haruslah dipandang sebagai sebuah gerakan yang terprogram bertahun-tahun dan berkaitan dengan berbagai kebijakan anti Islam dan Islamophobia yang didukung dengan berbagai media propaganda baik film atau lainnya dimulai sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh Salman Rusydi, dilanjutkan dengan karikatur penghinaan pada Nabi di Denmark, puluhan film anti Islam di Hollywood dan apa yang saat ini mereka lakukan menyimpan sebuah pertanyaan besar, apa yang ada di balik gerakan ini dan siapa mereka?
Telaah yang mendalam atas hal ini adalah dapat kita saksikan pada beberapa tindakan kejahatan di beberapa tahun terakhir yang mereka lakukan di Afghanistan, Irak, Palestina, Lebanon dan Pakistan akan menunjukkan sebuah bukti nyata yang tidak menyisakan keraguan sedikitpun, bahwa desainer dan ruang kontrol atas hal itu adalah berada di tangan para pemimpin Zionis yang memiliki pengaruh besar terhadap pemerintah AS dan badan keamanan militer dunia, serta pada pemerintah Inggris dan beberapa negara Eropa.

Studi-studi yang sama tentang serangan 11 September yang dilakukan oleh berbagai peneliti independen hari demi hari semakin mengarahkan  jari telunjuk, bahwa hal itu adalah ulah mereka sendiri demi mendapatkan alasan untuk menyerang Afghanistan dan Irak. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan  presiden AS saat itu –-sesuai dengan berbagai laporan--  yang dengan jelas mengumumkan dimulainya kembali ‘perang salib’  dan semakin sempurna dengan masuknya gereja ke area ini.

Tujuan dari tindakan keji yang baru-baru ini dilakukan, adalah upaya untuk menciptakan permusuhan melawan Islam dan Muslim dalam komunitas Kristen yang  dengan keterlibatan gereja dan pendeta, maka warna religius dan fanatisme agama segera mengambil perannya. Di sisi lain negara-negara Muslim yang penuh keberanian dan pasti terluka dengan tindakan tersebut, akan mengamuk  dan melupakan isu-isu penting Timur Tengah dan dunia Islam lainnya.
Tindakan permusuhan ini bukanlah awal dari sebuah gerakan, namun sebuah fase dari program jangka panjang  gerakan anti Islam yang dipelopori oleh rezim zionisme Israel dan Amerika. Saat ini semua pemimpin imprealisme internasional berdiri menyatakan perlawanan terhadap Islam.  

Islam adalah agama spiritualitas dan kebebasan manusia. Alquran merupakan kitab suci kasih sayang, hikmah dan keadilan.  Adalah tugas dari semua pecinta kebebasan di dunia dan semua pemeluk agama monoteisme Ibrahimi untuk bersama-sama melawan politik kotor anti-Islam.

Ketahuilah, bahwa rezim Amerika tidak akan berhasil membersihkan diri mereka dari berbagai tindakan keji ini dengan kata-kata dan propaganda palsu mereka. Sudah beberapa tahun berlalu simbol-simbol kesucian dan hak-hak jutaan umat Islam tak bersalah di Afghanistan , Pakistan, Irak, Lebanon dan Palestina telah dilanggar dan diinjak-injak.

Ratusan ribu tewas, puluhan ribu pria dan wanita ditawan dan disiksa. Jutaan anak-anak dan perempuan  tak berdosa menjadi cacat dan tunawisma, korban apakah mereka? Dengan semua ketertindasan ini, mengapa di media barat, seorang muslim dianggap sebagai manifestasi kekerasan dari  Alquran? Serta Islam dianggap sebagai ancaman terhadap kemanusiaan? Siapa yang percaya bahwa konspirasi luas ini bisa terjadi tanpa bantuan atau campur tangan kalangan Zionis dalam pemerintah AS?
Kaum Muslimin, saudara- saudariku  di Iran dan di seluruh dunia!
Dalam kesempatan ini saya perlu mengingatkan beberapa hal penting:

Pertama: peristiwa dan kejadian-kejadian yang saat ini dan sebelum ini terjadi dengan jelas menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran serangan imprealisme dan arogansi global adalah Islam dan Alquran yang suci. Permusuhan yang mereka lancarkan dengan jelas kepada Republik Islam Iran adalah karena kejelasan Republik Islam Iran  untuk melawan setiap kekuatan melawan Islam.  Dan apa yang mereka selalu angkat sebagai slogan bahwa mereka tidak memusuhi Islam dan kaum Muslimin adalah sebuah kebohongan besar dan tipuan semata. Mereka benar-benar memusuhi Islam dan siapapun yang berkomitmen dengan ajaran Islam.

Kedua: Berbagai tindakan permusuhan anti Islam dan kaum muslimin adalah disebabkan karena mereka menyaksikan cahaya Islam dan pengaruhnya menyala-nyala lebih dari sebelumnya di dalam hati kita, di dalam hati masyarakat muslim dunia, bahkan di dunia barat sekalipun.
Permusuhan ini muncul karena umat Islam memiliki kesadaran dan kebangkitan lebih dari sebelumnya, dimana mereka berhasil merobek-robek kekuatan dua abad kolonialisme. Karenanya pelecehan terhadap Alquran dan Nabi Agung saw dengan semua kepahitan di dalam hati seluruh kita, pada saat yang sama membawa kabar gembira besar yang menunjukkan cahaya Alquran hari demi hari semakin lebih tinggi dan terang.

Ketiga: Semua harus mengetahui, bahwa semua peristiwa yang terjadi di akhir-akhir ini tidak ada hubungannya dengan gereja dan agama Kristen. Gerakan beberapa pendeta boneka dan bayaran itu tidak boleh digeneralisir kepada seluruh umat Kristen dan agama mereka.
Kami umat Muslim tidak akan pernah berprilaku sama dengan mereka dalam hal kesucian agama lain. Konflik antara Muslim dan Kristen pada tingkat bawah merupakan keinginan musuh bersama kita dan tujuan desainer gila kegiatan ini.  Pelajaran yang diajarkan oleh Alquran kepada kita adalah persis kebalikan dari hal itu.

Keempat: Tuntutan semua umat Islam hari ini adalah harus ditujukan kepada pemerintah AS dan para politisi mereka. Jika mereka benar dalam klaim mereka bahwa mereka tidak terlibat dalam kejahatan ini, maka mereka harus menegakkan hukum yang pantas kepada pelaku kejahatan yang telah melukai hati satu setengah milyar Muslim dunia.
Salam bagi hamba-hamba Allah yang saleh.

Sayyid Ali Khamenei
13  September  2010

Selasa, 07 September 2010

Simple Fiqih (Zakat Fitrah,Takbiran dan Sholat Idul Fitri)

 

Alkhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rosulillah wa’ala alihi washohbihi waman walah Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah adalah zakat yang disyariatkan dengan berakhirnya bulan Ramadhan sebagai pembersih dari hal-hal yang mengotori shaum, dan santunan yang mencukupi fakir-miskin di hari raya Fithri.

Landasan Hukum

Hadits Rasulullah SAW: “Dari Ibnu Umar RA berkata: “Rasulullah saw . mewajibkan zakat fitrah, satu sha kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari umat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk shalat (‘iid)” (Mutafuqun alaihi).

Hukum Zakat Fitrah Zakat Fitrah disyariatkan seiring dengan disyariatkannya shaum Ramadhan pada tahun kedua hijriyah. Status hukumnya sama, yaitu wajib. Adapun yang dikenai kewajiban adalah setiap muslim/muslimah, baik kaya maupun miskin, akil baligh maupun tidak, jika yang bersangkutan masih hidup walaupun sesaat pada malam hari raya Fithri, dan jika mempunyai kelebihan dari kebutuhan primernya untuk sehari semalam ‘Iedul Fithri.

Hikmah Zakat Fitrah Termasuk kebutuhan primer adalah makan, pengobatan yang sakit, kiswatul ‘Iid (pakaian hari raya) jika memang perlu ganti pakaian, juga untuk membayar utang yang tidak dapat ditangguhkan lagi. Bagi yang mempunyai tanggungan wajib mengeluarkan zakat Fithrah bagi orang yang di bawah tanggungannya, kecuali orang yang di bawah tanggungannya mampu untuk mengeluarkan sendiri, maka status hukumnya menjadi anjuran.

Ketentuan Zakat Fitrah

1. Besar sha’ menurut ukuran sekarang adalah 2176 gram (2,2 Kg). Boleh dan dipandang baik (mustahab) memberi tambahan dari kadar tersebut, jika dimaksudkan untuk kehati-hatian (ikhtiyat) mengenai equivalent sha’ dengan kilogram dan menunjang santunan kepada fakir miskin agar lebih mencukupi dan efektif.

2. Boleh mengeluarkan zakat Fithrah dengan uang jika lebih bernilai guna bagi fakir miskin penerimanya, terlepas apakah lebih memudahkan bagi pihak pembayar zakat atau tidak. Sebagaimana difatwakan oleh para ulama mazhab Hanafi dan ulama modern, juga diriwayatkan dari Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdul Aziz.

3. Untuk kembali ke ashalah dan khuruj ‘anil khilaf (keluar dari khilaf) sangat ditekankan mengeluarkan zakat Fithrah dalam bentuk qut (bahan makanan pokok, beras) dan sedapat mungkin dengan kualitas yang terbaik.

4. Masharif (yang berhak menerima) Zakat Fitrah, adalah delapan golongan sesuai dengan surat at-Taubah 60. Namun demikian lebih diutamakan atau diprioritaskan untuk fakir miskin, supaya mereka dapat merasakan kegembiraan di hari raya.

5. Sebaiknya zakatul Fithrah sudah dikeluarkan/ dikumpulkan dua hari sebelum hari raya, sebagaimana yang dilakukan sebagian sahabat, di antaranya Ibnu Umar RA. Hal ini jelas akan menunjang realisasi ‘Ighnaul masakin’ (memberikan kecukupan kepada kaum miskin) pada hari ‘Iedhul Fithri dan melancarkan penanganannya.

6. Boleh mengeluarkan zakat dita’jil (dipercepat) sejak awal-awal Ramadhan, dan masih boleh/ sah mengeluarkannya ba’da subuh hari raya tapi sebelum usai shalat ‘Ied. Jika sesudahnya, maka kedudukannya bergeser dari Zakat Fithrah yang fardhu menjadi shadaqah sunnah.

Ha ini berdasarkan hadits sbb: “Barangsiapa yang membayarnya sebelum shalat maka itu adalah zakat yang sah, dan barangsiapa membayarnya setelah shalat maka itu adalah sedekah sunnah.” (HR Ibnu Majah)

Takbiran

Takbiran pada ‘Idul Fitri merupakan taqarrub kepada Allah SWT yang sangat dianjurkan, sebagai rasa syukur atas nikmat dan petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita,

sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS al-Baqarah: 185) ”Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS Al-Baqarah: 203) Takbiran merupakan syiar Islam yang harus dipelihara dan diagungkan.

Firman Allah: ”Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS al-Hajj: 32).

Adab Takbiran Karena takbiran merupakan taqarrub pada Allah SWT, maka harus dilakukan dengan memperhatikan adab-adab berikut:

1. Ikhlas

2. Khidmat

3. Menjauhi Maksiat

4. Tidak Hura-Hura

Lafazh Takbiran

Riwayat Abdur Razzak dari Salman dengan sanadnya yang shahih, berkata:“bertakbirlah: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Dari Umar dan Ibnu Mas’ud : اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Menurut mazhab Maliki dan Syafi’i: Allahu akbar 3x Lafazh Takbir boleh ditambah dengan lafazh lain. Waktu Takbiran Menurut pendapat yang kuat dari Jumhur Ulama takbiran ‘Idul Fitri dapat dimulai ketika hendak pergi menuju shalat ‘Idul Fitri sampai imam mulai khutbah. Tetapi pendapat lain membolehkan dari mulai terbenam matahari sampai imam mulai khutbah.

Idul Fitri

Idul Fitri adalah saat-saat umat Islam mensyukuri atas kesuksesan mereka melaksanakan ibadah Ramadhan. Hari berbahagia dan bersuka cita.

Idul Fitri disebut juga hari pengampunan, sebagaimana riwayat imam Az-Zuhri, ketika datang hari Idul Fitri, maka manusia keluar menuju Allah SWT. Dan Allah kemudian mendatangi mereka seraya berkata: “Wahai hamba-Ku! Karena Aku engkau semua berpuasa, karena Aku engkau semua beribadah. Oleh karena itu, maka pulanglah kalian semua (ke rumah masing-masing) sebagai orang yang telah mendapat ampunan (dari-Ku)”.

Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) ‘Idul fitri dan ‘Idul Adha” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i dengan sanad hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa menampakkan rasa suka cita di hari Raya adalah sunnah dan disyariatkan.

Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan yang bisa mendatangkan kesegaran badan dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk taat kepada Allah.

Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri hukumnya sunnah muaqqadah. Sebagian ulamanya menyatakan fardhu kifayah dan sebagian yang lain menyatakan fardhu ‘ain. Pada saat hari ‘Idul Fitri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenakan pakaian terbaiknya dan makan kurma – dengan bilangan ganjil tiga, lima atau tujuh – sebelum pergi melaksanakan shalat ‘Id. Tetapi pada ‘Idul Adha beliau tidak makan terlebih dahulu sampai beliau pulang, setelah itu baru memakan sebagian daging binatang sembelihannya.

Beliau mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri agar kaum muslimin memiliki kesempatan untuk membagikan zakat fitrahnya, dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha supaya kaum muslimin bisa segera menyembelih binatang kurbannya. Ibnu Umar yang terkenal sangat bersungguh-mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak keluar untuk shalat ‘Id kecuali setelah terbit matahari, dan dari rumah sampai ke tempat shalat beliau senantiasa bertakbir.

Nabi shallallahu alaihi wasallam melaksanakan shalat ‘Id terlebih dahulu baru berkhutbah, dan beliau shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama beliau bertakbir 7 kali berturut-turut dengan Takbiratul Ihram, dan berhenti sebentar di antara tiap takbir. Beliau tidak mengajarkan dzikir tertentu yang dibaca saat itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Dia membaca hamdalah dan memuji Allah Ta ‘ala serta membaca shalawat. Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya pada setiap bertakbir.

Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah bertakbir membaca surat Al-Fatihah dan “Qaf” pada rakaat pertama serta surat “Al-Qamar” di rakaat kedua. Kadang-kadang beliau membaca surat “Al-A’la” pada rakaat pertama dan “Al-Ghasyiyah” pada rakaat kedua. Kemudian beliau bertakbir lalu ruku’ dilanjutkan takbir 5 kali pada rakaat kedua membaca Al-Fatihah dan surat. Setelah selesai beliau menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing, lalu beliau menyampaikan khutbah yang berisi wejangan, anjuran dan larangan. Beliau selalu melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang (dari shalat) ‘Id.’ Beliau selalu mandi sebelum shalat ‘Id. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan hamdalah, dan bersabda: “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan hamdalah, maka ia terputus (dari berkah).” (HR. Ahmad dan lainnya).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat ‘Id dua rakaat tanpa disertai shalat yang lain baik sebelumnya ataupun sesudahnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dan yang lain).

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id itu hanya dua rakaat, demikian pula mengisyaratkan tidak disyariatkan shalat sunnah yang lain, baik sebelum atau sesudahnya. Allah Maha Tahu segala sesuatu, shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seluruh anggota keluarga dan segenap sahabatnya.

Semoga bermanfaat,

Suya dan keluarga Mengucapkan “Taqobbalallahu minna wamingkum taqobbal Ya Karim” Mohon maaf lahir dan bathin.

Walhamdulillah Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.